rangkuman islamisasi dan silang budaya di nusantara
Pedagang Penguasa Dan Pujangga pada Masa Klasik (Hindu-Buddha) - Sebelum admin melanjutkan pembahasan yang lebih secara mendalam. Kami ingin mengingatkan kepada buat anda sekalian untuk membaca artikel yang sangat erat hubungannya dengan artikel di atas, yang membahas tentang Islamisasi Dan Silang Budaya di Nusantara.Baiklah, langsung saja anda menyimak ulasan berikut ini.
Lewatjaringan perdagangan, Islam dibawa masuk sampai ke lingkungan istana. Interaksi budaya Islam dengan budaya yang ada sebelumnya memunculkan sebuah jaringan keilmuan, akulturasi budaya dan perkembangan kebudayaan Islam. Ulasan berikut akan mencoba menjabarkan proses Islamisasi di Indonesia dan mengurai simpul dari silang budaya yang sampai
Materi: Bab 4 - Islamisasi dan Silang Budaya Nusantara. Dengan persebaran Islam di seluruh Nusantara sekitara 1300 - 1650 M, konsep baru kerajaan Islam di Indonesia mulai merebak. Mulai dari Sumatra, Jawa, dan kemudian di daerah-daerah lainnya, kerajaan-kerajaan Islam mulai berdiri dan menjalankan segala aktivitasnya. 1.
a para ulama yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa b. sekelompok ulama yang menyebarkan agama Islam di Nusantara c. kumpulan orang-orang suci dalam agama Islam d. kumpulan pengurus masjid-masjid besar di Nusantara jawaban : A. 5. Raja Demak pertama ialah. a. Pati Unus c. Benowo b. Trenggono d. Raden Parah jawaban : D
Rangkumanmateri sejarah ISLAMISASI DAN SILANG BUDAYA DI NUSANTARA A. KEDATANGAN ISLAM KE NUSANTARA Secara umum terdapat 3 teori besar tentang asal-usul penyebaran Islam di Indonesia, yaitu teori Gujarat, teori Mekkah dan teori Persia. — Teori Gujarat Teori berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan pembawanya
Partnersuche Ab 50 Kostenlos Ohne Anmeldung. Terdapat berbagai pendapat mengenai proses masuknya Islam ke Kepulauan Indonesia, terutama perihal waktu dan tempat asalnya. Pertama, sarjana-sarjana Barat—kebanyakan dari Negeri Belanda—mengatakan bahwa Islam yang masuk ke Kepulauan Indonesia berasal dari Gujarat sekitar abad ke-13 M atau abad ke-7 H. Kedua, Hoesein Djajadiningrat mengatakan bahwa Islam yang masuk ke Indonesia berasal dari Persia Iran sekarang.Pendapatnya didasarkan pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Parsi dan Indonesia. Tradisi tersebut antara lain tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syiah atas kematian Husein bin Ali, seperti yang berkembang dalam tradisi tabot di Pariaman di Sumatra Barat dan Bengkulu. Ketiga, Buya Hamka Haji Abdul Malik Karim Amrullah mengatakan bahwa Islam berasal dari tanah kelahirannya, yaitu Arab atau Mesir. Proses ini berlangsung pada abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M. Daftar IsiIslam dan Jaringan Perdagangan Antar PulauIslam Masuk Istana RajaKerajaan Islam di SumateraKerajaan Samudra PasaiKesultanan Aceh DarussalamKerajaan-kerajaan Islam di RiauKerajaan Islam di JambiKerajaan Islam di Sumatera SelatanKerajaan Islam di Sumatera BaratKerajaan Islam di JawaKerajaan DemakKerajaan MataramKesultanan BantenKesultanan CirebonKerajaan Islam di KalimantanKerajaan Islam di SulawesiKerajaan Islam di Maluku UtaraKerajaan Islam di PapuaKerajaan Islam di Nusa TenggaraJaringan Keilmuwan di NusantaraAkulturasi dan Perkembangan Budaya IslamProses Integrasi Nusantara Islam dan Jaringan Perdagangan Antar Pulau Berita Tome Pires dalam Suma Oriental 1512-1515 memberikan gambaran mengenai keberadaan jalur pelayaran jaringan perdagangan, baik regional maupun menceritakan tentang lalu lintas dan kehadiran para pedagang di Samudra Pasai yang berasal dari Bengal, Turki, Arab, Persia, Gujarat, Kling, Malayu, Jawa, dan Siam. Selain itu Tome Pires juga mencatat kehadiran para pedagang di Malaka dari Kairo, Mekkah, Aden, Abysinia, Kilwa, Malindi, Ormuz, Persia, Rum, Turki, Kristen Armenia, Gujarat, Chaul, Dabbol, Goa, Keling, Dekkan, Malabar, Orissa, Ceylon, Bengal, Arakan, Pegu, Siam, Kedah, Malayu, Pahang, Patani, Kamboja, Campa, Cossin Cina, Cina,Lequeos, Bruei, Lucus, Tanjung Pura, Lawe,Bangka, Lingga, Maluku, Banda, Bima, Timor,Madura, Jawa, Sunda, Palembang, Jambi,Tongkal, Indragiri, Kapatra, Minangkabau, Siak,Arqua, Aru, Tamjano, Pase, Pedir, dan Maladiva. Berdasarkan kehadiran sejumlahpedagang dari berbagai negeri dan bangsa diSamudra Pasai, Malaka, dan bandar-bandardi pesisir utara Jawa sebagaimana diceritakanTome Pires, dapat disimpulkan adanya jalur-jalur pelayaran dan jaringanperdagangan antara beberapa kesultanan diKepulauan Indonesia baik yang bersifat regionalmaupun internasional. Islam Masuk Istana Raja Kerajaan Islam di Sumatera Sejak awal kedatangan Islam, Pulau Sumatra termasuk daerah pertama dan terpenting dalam pengembangan agama Islam di demikian mengingat letak Sumatra yang strategis dan berhadapan langsung dengan jalur perdangan dunia, yakni Selat Malaka. Kerajaan Samudra Pasai Samudra Pasai diperkirakan tumbuh berkembang antara tahun 1270 dan 1275, atau pertengahan abad ke-13 M. Kerajaan ini terletak lebih kurang 15 km di sebelahtimur Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam. Kesultanan Aceh Darussalam Kesultanan Aceh Darussalam didirikan kurang lebih pada tahun 1496 M. Sesuai namanya, kerajaan ini terletak di wilayah yang paling terkenal dari kesultanan ini adalah Sultan Iskandar Muda. Kerajaan-kerajaan Islam di Riau Kerajaan Islam yang ada di Riau dan Kepulauan Riau menurut berita Tome Pires antaralain Kerajaan Kampar, Indragiri, dan Siak. Kerajaan Islam di Jambi Kerajaan Islam di Jambi terbentuk kurang lebih pada pertengahan abad ke-15 M. Kerajaan Islam di Sumatera Selatan Sejak Kerajaan Sriwijaya mengalami kelemahan bahkan runtuh sekitar abad ke-14, mulailah proses Islamisasi sehingga pada akhir abad ke-15 muncul komunitas Muslim di Palembang. Secara resmi, kerajaan islam di Sumatera Selatan yang bernama Kesultanan Palembang. Kerajaan ini didirikan pada sekitar tahun 1659 M. Kerajaan Islam di Sumatera Barat Islam yang datang dan berkembang di Sumatra Barat diperkirakan pada akhir abad ke-14 atau abad 15, sudah memperoleh pengaruhnya di kerajaan besar Minangkabau. Kerajaan Islam di Jawa Berdasarkan catatan sejarah,I slam itu sudah lama masuk ke Pulau Jawa, jauh sebelum bangsa Barat menjejakkan kaki di pulau ini. Untuk lebih jelasnya marilah kita paparkan sekelumit kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa. Kerajaan Demak Kerajaan Demak berdiri sekitar tahun 1500 M. Ketika masa kejayaannya, kekuasaan Kerajaan Demak meliputi Pesisir Jawa bagian tengah dan timur, Palembang, Jambi, dan beberapa daerah di Kalimantan. Raja yang paling terkenal dari kerajaan ini adalah Raden Fatah. Kerajaan Mataram Kerajaan Mataram berdiri sekitar tahun 1587 M. Pada masa jayanya, kerajaan ini menyatukan sebagian pulau Jawa, Madura, dan Sukadana. Raja yang paling terkenal adalah Mas Rangsang atau yang lebih dikenal Sultan Agung Kesultanan Banten Kesultanan Banten berdiri sekitar 1526 M. Kerajaan ini terletak di bagian barat Pulau yang terkenal adalah Sultan Ageng Tirtayasa. Kesultanan Cirebon Kesultanan Cirebon berdiri sekitar tahun 1400-an. Kesultanan Cirebon terletak di perbatasan Jawa Barat dan Jawa yang terkenal dari kerajaan ini adalah Syarif Hidayatullah. Kerajaan Islam di Kalimantan Di samping Sumatra dan Jawa, ternyata di Kalimantan juga terdapat beberapa kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam. Di antara kerajaan Islam itu adalah Kesultanan Pasir, Kesultanan Banjar, Kesultanan Kotawaringin, Kerajaan Pagatan, Kesultanan Sambas, Kesultanan Kutai Kartanegara, Kesultanan Berau, Kesultanan Sambaliung, Kesultanan Gunung Tabur, Kesultanan Pontianak, Kesultanan Tidung, dan Kesultanan Bulungan. Kerajaan Islam di Sulawesi Di daerah Sulawesi juga tumbuh kerajaan-kerajaan bercorak kerajaan-kerajaan Islam di Sulawesi tidak terlepas dari perdagangan yang berlangsung ketika ini adalah beberapa kerajaan Islam di Sulawesi di antaranya Gowa-Tallo, Bone, Wajo dan Soppeng, dan Kesultanan Buton. Kerajaan Islam di Maluku Utara Di daerah Maluku Utara terdapat dua kerajaan besar bercorak Islam, yakni Ternate dan kerajaan ini terletak di sebelah barat Pulau Halmahera, Maluku kerajaan itu pusatnya masing-masing di Pulau Ternate dan Tidore, tetapi wilayah kekuasaannya mencakup sejumlah pulau di Kepulauan Maluku dan Papua. Kerajaan Islam di Papua Sumber-sumber sejarah menunjukkan bahwa penyebaran Islam di Papua sudah berlangsung sejak lama. Bahkan, berdasarkan bukti sejarah terdapat sejumlah kerajaan-kerajaan Islam di Papua, yakni Kerajaan Waigeo, Kerajaan Misool, Kerajaan Salawati, Kerajaan Sailolof, Kerajaan Fatagar, Kerajaan Rumbati terdiri dari Kerajaan Atiati, Sekar, Patipi, Arguni, dan Wertuar, Kerajaan Kowiai Namatota, Kerajaan Aiduma, Kerajaan Kaimana. Kerajaan Islam di Nusa Tenggara Kehadiran Islam ke daerah Nusa Tenggara antara lain ke Lombok diperkirakan terjadi sejak abad ke-16 yang diperkenalkan Sunan Perapen, putra Sunan Giri. Islam masuk ke Sumbawa kemungkinan datang lewat Sulawesi, melalui dakwah para mubalig dari Makassar antara 1540-1550. Kemudian berkembang pula kerajaan Islam antara lain Kerajaan Selaparang dan Kerajaan Bima. Jaringan Keilmuwan di Nusantara Sebagai agama yang paripurna, islam pun mengatur persoalan pendidikan. Bahkan dalam sejarahnya, islam sangat memperhatikan persoalan ini. Buktinya Sultan-sultan di Indonesia mendanai kegiatan-kegiatan di mereka juga mendatangkan para ulama, baik dari mancanegara, terutama Timur Tengah, maupun dari kalangan ulama pribumi ulama yang kemudian juga difungsikansebagai pejabat-pejabat negara, bukan saja memberikan pengajaran agama Islam di masjid-masjid negara, tetapi juga di istana sultan dan pejabat tinggi rupanya juga menimba ilmu dari para halnya yang terjadi di Kerajaan Islam Samudera Pasai dan Kerajaan Malaka. Berkembangnya pendidikan dan pengajaran Islam, telah berhasilmenyatukan wilayah Nusantara yang sangat luas. Dua hal yangmempercepat proses itu yaitu penggunaan aksara Arab dan bahasaMelayu sebagai bahasa pemersatu lingua franca. Semua ilmu yangdiberikan di lembaga pendidikan Islam di Nusantara ditulis dalamaksara Arab, baik dalam bahasa Arab maupun dalam bahasa Melayuatau Arab itu disebut dengan banyak sebutan, sepertihuruf Jawi di Melayu dan huruf pegon di Jawa.Luasnya penguasaanaksara Arab ke Nusantara telah membuat para pengunjung asal Eropake Asia Tenggara terpukau oleh tingginya tingkat kemampuan bacatulis yang mereka jumpai. Akulturasi dan Perkembangan Budaya Islam Masuknya islam juga menjadikan adanya proses akulturasi kebudayaan, hal ini bisa dibuktikan dengan adanya corak islam dalam beberapa sisi kebudayaan, antara lain Seni BangunanSeni UkirAksara dan Seni SastraKesenian Kalender Proses Integrasi Nusantara Integrasi suatu bangsa adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan adanya integrasi akan melahirkan satu kekuatan bangsa yang ampuh dan segala persoalan yang timbul dapat dihadapi bersama-sama. Proses integrasi bangsa ini dipengaruhi beberapa faktor, antara lain Peranan Para UlamaPeran Perdagangan Antar PulauPeran Bahasa.
Uploaded byMyOs Supardi 100% found this document useful 1 vote199 views8 pagesDescriptiontugasCopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document100% found this document useful 1 vote199 views8 pagesIslamisasi Dan Silang Budaya Di NusantaraUploaded byMyOs Supardi DescriptiontugasFull descriptionJump to Page You are on page 1of 8Search inside document You're Reading a Free Preview Pages 5 to 7 are not shown in this preview. Buy the Full Version Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Kedatangan Islam ke Nusantara mempunyai sejarah yang panjang. Satu di antaranya adalah tentang interaksi ajaran Islam dengan masyarakat di Nusantara yang kemudian memeluk Islam. Lewat jaringan perdagangan, Islam dibawa masuk sampai ke lingkungan istana. Berikut Materi Sejarah Indonesia lengkap untuk Kelas 10 Bab 3 Islamisasi dan Silang Budaya di Nusantara. Daftar Isi1 Islamisasi dan Silang Budaya di Nusantara2 Kedatangan Islam ke Nusantara3 Islam dan Jaringan Perdagangan Antarpulau4 Islam Masuk Istana Raja5 Kerajaan Islam di Sumatra6 Kerajaan Islam di Jawa7 Kerajaan-Kerajaan Islam di Kalimantan8 Kerajaan-Kerajaan Islam di Sulawesi9 Kerajaan-Kerajaan Islam di Maluku Utara10 Kerajaan-Kerajaan Islam di Papua11 Kerajaan-Kerajaan Islam di Nusa Tenggara12 Jaringan Keilmuan di Nusantara13 Akulturasi dan Perkembangan Budaya Islam14 Seni Bangunan15 Seni Ukir, ada seni kaligrafi yang membentuk orang, binatang, atau Aksara dan Seni Sastra17 Kesenian18 Kalender19 Proses Integrasi Nusantara20 Peranan Para Ulama dalam Proses Integrasi21 Peran Perdagangan Antarpulau22 Peran Bahasa23 Share this24 Related posts Photo by Pixabay on Kedatangan Islam ke Nusantara sarjana-sarjana Barat—kebanyakan dari Negeri Belanda—mengatakan bahwa Islam yang masuk ke Kepulauan Indonesia berasal dari Gujarat sekitar abad ke-13 M atau abad ke-7 H. Pendapat ini mengasumsikan bahwa Gujarat terletak di India bagian barat, berdekatan dengan Laut Arab. Pedagang Arab yang bermahzab Syafi’i telah bermukim di Gujarat dan Malabar sejak awal tahun Hijriyah abad ke-7 M. Orang yang menyebarkan Islam ke Indonesia menurut Pijnapel bukanlah dari orang Arab langsung, melainkan para pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke dunia Timur. Islam dan Jaringan Perdagangan Antarpulau Dari sumber literatur Cina, Cheng Ho mencatat terdapat kerajaan yang bercorak Islam atau kesultanan, antara lain, Samudra Pasai dan Malaka yang tumbuh dan berkembang sejak abad ke-13 sampai abad ke-15, sedangkan Ma Huan juga memberitakan adanya komunitaskomunitas Muslim di pesisir utara Jawa bagian timur. Islam Masuk Istana Raja Kerajaan Islam di Sumatra Sejak awal kedatangan Islam, Pulau Sumatra termasuk daerah pertama dan terpenting dalam pengembangan agama Islam di Indonesia. Dikatakan demikian mengingat letak Sumatra yang strategis dan berhadapan langsung dengan jalur perdangan dunia, yakni Selat Malaka. a. Samudra Pasai Samudra Pasai diperkirakan tumbuh berkembang antara tahun 1270 hingga 1275, atau pertengahan abad ke-13. b. Kesultanan Aceh Darussalam Pada 1520 Aceh berhasil memasukkan Kerajaan Daya ke dalam kekuasaan Aceh Darussalam. Tahun 1524, Pedir dan Samudera Pasai ditaklukkan. Kesultanan Aceh Darussalam di bawah Sultan Ali Mughayat Syah menyerang kapal Portugis di bawah komandan Simao de Souza Galvao di Bandar Aceh. c. Kerajaan-Kerajaan Islam di Riau Kerajaan Islam yang ada di Riau dan Kepulauan Riau menurut berita Tome Pires 1512-1515 antara lain Siak, Kampar, dan Indragiri. Kerajaan Kampar, Indragiri, dan Siak pada abad ke-13 dan ke-14 dalam kekuasaan Kerajaan Melayu dan Singasari-Majapahit d. Kerajaan Islam di Jambi Berdasarkan temuan-temuan arkeologis kemungkinan kehadiran Islam di daerah Jambi diperkirakan dimulai sejak abad ke-9 atau abad ke-10 sampai abad ke-13. e. Kerajaan Islam di Sumatra Selatan Sejak Kerajaan Sriwijaya mengalami kelemahan bahkan runtuh sekitar abad ke-14, mulailah proses Islamisasi sehingga pada akhir abad ke-15 muncul komunitas Muslim di Palembang. f. Kerajaan Islam di Sumatra Barat Islam di daerah Lampung tidak akan dibicarakan karena daerah ini sudah sejak awal masuk kekuasaan Kesultanan Banten, karena itu yang akan dibicarakan pada bagian ini ialah Kerajaan Islam di Sumatra Barat. Mengenai masuk dan berkembangnya Islam di daerah Sumatra Barat masih sukar dipastikan. Kerajaan Islam di Jawa a. Kerajaan Demak Para ahli memperkirakan Demak berdiri tahun 1500. Sementara Majapahit hancur beberapa waktu sebelumnya. Menurut sumber sejarah lokal di Jawa, b. Kerajaan Mataram Setelah Kerajaan Demak berakhir, berkembanglah Kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijaya. Di bawah kekuasaannya, c. Kesultanan Banten Kerajaan Banten berawal sekitar tahun 1526, ketika Kerajaan Demak memperluas pengaruhnya ke kawasan pesisir barat Pulau Jawa, dengan menaklukkan beberapa kawasan pelabuhan kemudian menjadikannya sebagai pangkalan militer serta kawasan perdagangan. d. Kesultanan Cirebon Menurut berita Tome Pires sekitar 1513 diberitakan Cirebon sudah termasuk ke daerah Jawa di bawah kekuasaan Kerajaan Demak. Kerajaan-Kerajaan Islam di Kalimantan a. Kerajaan Pontianak Kerajaan-kerajaan yang terletak di daerah Kalimantan Barat antara lain Tanjungpura dan Lawe. b. Kerajaan Banjar Banjarmasin Kerajaan Banjar Banjarmasin terdapat di daerah Kalimantan Selatan yang muncul sejak kerajaan-kerajaan bercorak Hindu yaitu Negara Dipa, Daha, dan Kahuripan yang berpusat di daerah hulu Sungai Nagara di Amuntai. Kerajaan-Kerajaan Islam di Sulawesi a. Kerajaan Gowa-Tallo Kerajaan Gowa-Tallo sebelum menjadi kerajaan Islam sering berperang dengan kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan, seperti dengan Luwu, Bone, Soppeng, dan Wajo. b. Kerajaan Wajo Berita tentang tumbuh dan berkembangnya Kerajaan Wajo terdapat pada sumber hikayat lokal. Kerajaan-Kerajaan Islam di Maluku Utara Kepulauan Maluku menduduki posisi penting dalam perdagangan dunia di kawasan timur Nusantara. Mengingat keberadaan daerah Maluku ini maka tidak mengherankan jika sejak abad ke-15 hingga abad ke-19 kawasan ini menjadi wilayah perebutan antara bangsa Spanyol, Portugis dan Belanda. Kerajaan Ternate Pada abad ke-14 dalam kitab Negarakartagama, karya Mpu Prapanca tahun 1365 M menyebut Maluku dibedakan dengan Ambon yaitu Ternate. Kerajaan-Kerajaan Islam di Papua Sumber-sumber sejarah menunjukkan bahwa penyebaran Islam di Papua sudah berlangsung sejak lama. Bahkan, berdasarkan bukti sejarah terdapat sejumlah kerajaan-kerajaan Islam di Papua, yakni Kerajaan Waigeo Kerajaan Misool Kerajaan Salawati Kerajaan Sailolof Kerajaan Fatagar Kerajaan Rumbati terdiri dari Kerajaan Atiati, Sekar, Patipi, Arguni, dan Wertuar Kerajaan Kowiai Namatota Kerajaan Aiduma Kerajaan Kaimana. Kerajaan-Kerajaan Islam di Nusa Tenggara a. Kerajaan Lombok dan Sumbawa Selaparang merupakan pusat kerajaan Islam di Lombok di bawah pemerintahan Prabu Rangkesari. b. Kerajaan Bima Bima merupakan pusat pemerintahan atau kerajaan Islam yang menonjol di Nusa Tenggara dengan nama rajanya yang pertama masuk Islam ialah Ruma Ta Ma Bata Wada yang bergelar Sultan Bima I atau Sultan Abdul Kahir. Jaringan Keilmuan di Nusantara Ketika Kerajaan Samudera Pasai mengalami kemunduran dalam bidang politik, tradisi keilmuannya tetap berlanjut. Samudera Pasai terus berfungsi sebagai pusat studi Islam di Nusantara. Namun, ketika Kerajaan Malaka telah masuk Islam, pusat studi keislaman tidak lagi hanya dipegang oleh Samudera Pasai. Akulturasi dan Perkembangan Budaya Islam Beberapa contoh bentuk akulturasi akan ditunjukkan pada paparan berikut. Seni Bangunan Masjid dan MenaraMakam Seni Ukir, ada seni kaligrafi yang membentuk orang, binatang, atau wayang. Aksara dan Seni Sastra HikayatBabad mirip dengan hikayatSyair berasal dari perkataan ArabSuluk Kesenian Permainan debusSeudatiWayang Kalender Proses Integrasi Nusantara Peranan Para Ulama dalam Proses Integrasi Agama Islam yang masuk dan berkembang di Nusantara mengajarkan kebersamaan dan mengembangkan toleransi dalam kehidupan beragama. Islam mengajarkan persamaan dan tidak mengenal kasta-kasta dalam kehidupan masyarakat Peran Perdagangan Antarpulau Sejak awal abad ke-16 di Jawa berkembang Kerajaan Demak dan beberapa bandar sebagai pusat perdagangan. Di kepulauan Indonesia bagian tengah maupun timur juga berkembang kerajaan dan pusat-pusat perdagangan. Dengan demikian, terjadi hubungan dagang antardaerah dan antarpulau. Peran Bahasa Bahasa merupakan sarana pergaulan. Bahasa Melayu digunakan hampir di semua pelabuhan-pelabuhan di Kepulauan Nusantara. Daftar Pustaka Restu Gunawan, Amurwani Dwi Lestariningsih, dan Sardiman. 2017. Sejarah Indonesia Kelas X SMA/MA/SMK/MAK. Jakarta Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud Post Views 17,565
20 Kelas X SMA/MA/SMK/MAK Edisi Revisi Semestert 2 Bab III Islamisasi dan Silang Budaya di Nusantara Islamisasi adalah proses sejarah yang panjang yang bahkan sampai kini masih terus berlanjut… Kalau para ahli sejarah mempersoalkan tentang asal usul nasionalisme Indonesia, atau integrasi bangsa, mereka menyebutkan Islam sebagai salah satu faktor utama maka hal itu bisa diartikan pada sifat Islam yang universal dan pada jaringan ingatan kolektif yaitu keterkaitan para ulama di Nusantara dalam berbagai corak jaringan sosial guru-murid, murid sesama murid; penulis-dan-pembaca, dan tak kurang pentingnya ulama-umara serta ulama dan umat. Taufik Abdullah, 1996 Kedatangan Islam ke Nusantara mempunyai sejarah yang panjang. Satu di antaranya adalah tentang interaksi ajaran Islam dengan masyarakat di Nusantara yang kemudian memeluk Islam. Lewat jaringan perdagangan, Islam dibawa masuk sampai ke lingkungan istana. Interaksi budaya Islam dengan budaya yang ada sebelumnya memunculkan sebuah jaringan keilmuan, akulturasi budaya dan perkembangan kebudayaan Islam. Uraian berikut akan mencoba menjabarkan proses Islamisasi di Indonesia dan mengurai simpul dari silang budaya yang sampai kini masih terus berlanjut. Di unduh dari 21 Sejarah Indonesia PETA KONSEP Islamisasi dan Silang Budaya di Nusantara Kedatangan Islam di NusantaraSeni Bangunan Seni Rupa dan ukir Seni Sastra dan Aksara Sistem KesenianKalenderIslam dan Jaringan Perdagangan antarpulauIslam Masuk Istana RajaJaringan Keilmuan di Nusantara Kerajaan Islam di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara Proses dimulai dariMembentukMembentukMembentukMenyebabkanMenyebabkanProses MelaluiBerbentukAkulturasi dan Perkembangan Budaya IslamBerproses melalui Proses Integrasi Nusantara Di unduh dari 22 Kelas X SMA/MA/SMK/MAK Edisi Revisi Semestert 2 A. Kedatangan Islam ke Nusantara Mengamati Lingkungan TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah mempelajari uraian ini, diharapkan kamu dapat1. menganalisis kedatangan Islam di Nusantara,2. mengenal kerajaan Islam yang ada di Nusantara, 3. mendeskripsikan akulturasi dan perkembangan budaya Islam Sumber Taufik Abdullah dan Lapian ed. 2012. Indonesia Dalam Arus Sejarah. jilid III. Jakarta PT Ichtiar Baru van Hoeve. Gambar Peta jejak masuknya Islam ke Nusantara berdasarkan nomor urut Di unduh dari
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Perkembangan Islam di Nusantara tidak pernah terlepas dari dinamika Islam di kawasan-kawasan lain. Karena itu adalah keliru pandangan yang menganggap seolah-olah Islam Nusantara berkembang secara tersendiri serta terisolasi dari perkembangan dan dinamika Islam di tempat-tempat Islam Nusantara juga menampilkan ciri-ciri dan karakter yang khas,relatif berbeda dengan peradaban Islam di wilayah-wilayah peradaban Muslim lainnya,misalnya Arab,Turki,Persia,Afrika Hitam,dan Dunia Barat. Islam yang datang pertama kali adalah Islam yang umumnya dibawa para guru pengembara Sufi,yang mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk menyebarkan sufistik yang dibawa para guru pengembara ini jelas memiliki kecenderungan kuat untuk lebih menerima terhadap tradisi dan praktik keagamaan guru-guru Sufi pengembara ini,yang paling penting adalah pengucapan dua kalimah syahadat setelah itu barulah menperkenalkan ketentuan-ketentuan hukum Islam. Baca juga Makam Bathara Katong Menjadi Bukti Nyata Historis dan Islamisasi di Ponorogo Masyarakat Nusantara pada umumnya adalah masyarakat pesisir yang kehidupan mereka tergantung pada perdagangan antarpulau dan mereka yang berada di pedalaman adalah masyarakat agraris,yang kehidupan mereka tergantung kepada bidang kebudayaan,umat islam mempunyai ciri yang khusus pula dari budaya material material culture dalam kehidupan sehari-hari,sampai kepada budaya spiritual spiritual culture.Bahkan sampai sekarang kita masih bisa menyaksikan berbagai kesinambungan tertentu antara tradisi islam dengan tradisi tradisi budaya spiritual praislam yang sedikit banyak diwarnai tradisi Hindu,Buddha,dan bahkan tradisi keagamaan spiritual juga Sejarah Pangeran Lanang Dangiran Tokoh Islamisasi di SurabayaFaktor pemersatu terpenting diantara berbagai suku bangsa Nusantara adalah mengatasi perbedaan-perbedaan yang terdapat di antara berbagai suku bangsa dan menjadi identitas yang mengatsi batas-batas geografis,sentimen etnis,identitas kesukuan,adat istiadat dan tradisi lokal saja,sejauh menyangkut pemahaman dan pengalaman islam,terdapat pula perbedaan-perbedaan tertentu terhadap doktrin dan ajaran islam sesuai rumusan para ulama,bukan dengan identitas suku bangsa. Faktor pemersatu kedua,yaitu bahasa ini sebelum kedatangan Islam digunakan hanya di lingkungan etnis terbatas,yakni suku bangsa Melayu di Palembang,Riau,Deli sumatera Timur,dan semenanjung bahasa-bahasa lain yang digunakan lebih banyak orang suku bangsa lain di Nusantara,seperti bahasa jawa dan bahasa juga Makam Ki Ageng Jabung atau Sayyid Abdurrahman sebagai Napak Tilas Islamisasi di Kecamatan Jatirejo Kabupaten MojokertoBahasa Melayu yang lebih egaliter dibanding bahasa Jawa,diadopsi sebagai lingua franca oleh para penyiar islam ,ulama,dan bahasa Melayu sebagai lingua franca Islam di Nusantara bertambah kuat ketika bahasa Melayu ditulis dengan aksara dengan adopsi huruf-huruf Arab,maka dilakukan pula pengenanalan dan penyesuaian pada aksara Arab tertentu untuk kepentingan bahasa-bahasa lokal di bahasa Melayu itu menjadi semakin kuat lagi ketika para ulama menulis banyak karya mereka dengan bahasa Mekayu berhuruf Jawi tersebut sehingga pada gilirannya,tulisan Jawi menjadi alat komunikasi dan dakwah tertulis bagi masayarakat Melayu-Nusantara menggantikan beberapa bentuk tulisan yang berkembang sebelumnya. Warisan terbaik dari sejarah zaman islam lainnya ialah adanya pengintegrasian Nusantara lewat nasionalisme keagamaan dan jaringan perdagangan antarpulau. Lihat Sosbud Selengkapnya
rangkuman islamisasi dan silang budaya di nusantara